Home / Sejarah

Sejarah

Kampung Merabu secara administratif masuk dalam wilayah Kecamatan Kelay Kabupaten Berau. Sebelum dilakukan pemekaran tahun 2000, kampung ini masuk dalam wilayah administratif Kecamatan Sambaliung Kabupaten Berau karena dahulu masuk dalam wilayah Kesultanan Sambaliung Kabupaten Berau. Secara kartografis, batas-batasnya adalah di sebelah Barat berbatasan dengan Kampung Merapun, Sebelah Timur berbatasan dengan Wilayah adat Mapulu-Tintang (Desa Karangan Dalam Kabupaten Kutai Timur), sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Kutai Timur, serta di sebelah Utara dengan Kampung Panaan. Di bagian sebelah Barat berbatas dengan Merapun terdapat perusahaan kayu PT Utama Damai Indah Timber (UDIT) dan perkebunan kelapa sawit yang luas di wilayah Merapun yaitu PT Yudha Wahana Abadi, PT Gunta Samba, dan PT Anugerah.

Nama Merabu, konon mulanya adalah Menanga Bu yang artinya muara sungai Bu karena dahulu lokasi pemukiman tepat di muara Sungai Bu yang saat ini terletak di hilir kampung. Hulu dari sungai Bu sendiri tidak jauh dari kampung di daerah yang disebut Sedepan Bu. Menurut sejarahnya, leluhur orang Merabu dahulu bermukim di gua-gua di hulu sungai. Lokasi pemukiman yang paling dikenal yaitu Gunung Kulat yang berbatasan dengan hulu Sungai Bengalun di perbatasan Berau-Kutai Timur. Dari Gunung Kulat mereka berpindah menyebar di bagian tengah Sungai Lesan antara lain ke Tukan Canong, kemudian berpindah lagi ke Beteran, lalu ke Muara Bu dan terakhir di Merabu hingga saat ini.

Luas kampung Merabu lebih kurang 22.000 ha, dan secara topografi terdiri dari kawasan dataran rendah di sempadan Sungai Lesan dan perbukitan batu kapur (karts) di bagian hulu anak Sungai Lesan. Di celah-celah antara gunung-gunung batu kapur (karst) ditemukan lembah yang disebut penduduk setempat sebagai laruk dan rawa-rawa yang disebut pesu. Gua-gua di pegunungan batu kapur di Merabu selain dikenal dengan hasil sarang burung walet juga ditemukan beberapa peninggalan prasejarah berupa gambar-gambar di dinding gua dan kubur batu.

Dayak Lebo

Nama Dayak Lebo, atau sering juga disebut Labu atau Lebu merupakan sebutan yang umum untuk menyebutkan jati diri mereka dari kelompok masyarakat Dayak Basap yang bermukim di hulu Lesan, Inaran, dan Karangan. Mereka menyebutkan identitas sebagai dayak lebbo, yang dianggap berbeda dari kelompok basap lain karena selain memiliki latar belakang sejarah dan bahasa yang berbeda, juga mereka dianggap lebih maju dibandingkan kelompok-kelompok yang disebutkan sebagai Dayak Basap. Mereka telah mengenal pemukiman permanen dan tidak tinggal di gua-gua, mereka juga mengenal kesenian dan pakaian serta adat istiadat lain yang dimiliki masyarakat Melayu Berau dan Kutai.

Sebutan Dayak Lebbo berasal dari kata leppo atau lepau yang berarti pondok, rumah atau kampung. Kelihatannya mereka mengenal budaya tinggal menetap di pondok berkampung secara kolektif dari asimilasi dengan kelompok-kelompok dayak lain seperti Wehea dan Gaay yang berdekatan dengan pemukiman mereka. Dugaan lainnya yaitu asimilasi dengan kelompok-kelompok pengembara, prajurit dan tawanan perang dari berbagai kelompok suku yang menjadi bawahan dari bangsawan Kesultanan Berau dan Kutai yang ditempatkan dihulu-hulu sungai untuk menjaga gua sarang burung. Akibat kontrol kekuasan yang hilang setelah takluknya Kesultanan Berau (Sambaliung dan Gunung Tabur) serta Kesultanan Kutai ke tangan Belanda, mengakibatkan kelompok-kelompok tersebut terpisah dan membentuk komunitas tersendiri yang kemudian dikenal sebagai orang Dayak Basap maupun Lebbo.

Bagi kalangan orang Dayak Lebbo sendiri, sebutan sebagai orang Dayak Lebbo dianggap lebih memiliki makna yang lebih ‘manusiawi’ dibandingkan sebutan sebagai Dayak Baasap. Di kalangan orang Melayu Berau dan Kutai, sebutan sebagai orang Baasap konotasinya merendahkan dari para penghuni hutan di hulu-hulu sungai. Sebutan Basap identik dengan primitif, liar dan tidak berkampung dan hanya dijumpai di gua-gua sebagai pemukiman mereka. Orang-orang Melayu Kutai di pesisir Sangkulirang memiliki sebutan yang lebih netral dengan menyebut kelompok-kelompok masyarakat yang masih menetap di hulu sungai tersebut sebagai orang darat.

Menurut sejarahnya, banyak penutur dikalangan orang dayak Lebbo ini yang menyebutkan bahwa asal mereka dari Gunung Kulat di perbatasan Selatan Berau dengan Kutai. Setelah kekacauan akibat perang antara suku mulai mereda, mereka menyebar di dataran rendah di tepi hulu tepi sungai Lesan, Bengalun, Karangan dan Pengadan. Kelompok-kelompok dayak Basap yang menyebutkan diri sebagai Dayak Lebbo ini komunitasnya di Kabupaten Berau ditemui di Merapun, Merabu, Mapulu, Panaan, dan Meliyu. Di Kabupaten Kutai Timur di temui di Pemukiman KAT Karangan Seberang dan Muara Bulan (Baay). Di Tepian Langsat sendiri, karena mereka telah lama berbaur dengan kelompok Melayu Kutai, tidak lagi disebut sebagai Dayak Lebbo atau Dayak Basap. Mereka telah menjadi orang Kutai. Demikian juga dengan di Keraitan, Tebangan Lembak dan Sekurau, akibat hegemoni sebutan Dayak Basap terlanjur melekat ke diri mereka sebutan sebagai Dayak Basap lebih dominan dibandingkan sebagai Dayak Lebbo meskipun telah lama pula mengenal pemukiman permanen dipondok-pondok ladang.

 Masyarakat di kampung Merabu yang merupakan bagian dari masyarakat Dayak Lebbo, masih memiliki hubungan sosial dan budaya yang erat dengan lingkungan sumberdaya alam di sekitarnya. Terkait dengan sumberdaya hutan, masyarakat meyakini bahwa segala jenis sumberdaya alam dan hutan harus di manfaatkan secara arif dan bijaksana. Pemanfaatannya dilakukan seperlunya dengan mempertimbangkan manfaat untuk generasi selanjutnya. Aturan-aturan adat dalam pengeloaan sumberdaya alam ini telah dibuat dalam bentuk tertulis berupa Peraturan Kampung tentang Pengelolaan Sumberdaya Alam Kampung.

Beberapa prosesi adat yang berkaitan dengan kelola sumberdaya alam antara lain yaitu tuak atau irau, yaitu ritual adat yang dilakukan untuk ‘bersih kampung’. Prosesi ‘bersih kampung’ ini dimaksudkan agar buah-buahan berbunga merata dan sempurna menjadi buah, madu lebah hutan berlimpah dan kampung memperoleh kesejahteraan yang mencukupi. Prosesi ‘bersih kampung’ melalui adat tuak biasanya dilakukan ketika terjadi wabah penyakit atau musim buah dan hasil panen padi, madu serta hasil hutan lain dianggap kurang baik. Penyelenggaraannya dilakukan secara bersamaan oleh komunitas Dayak Lebbo dari Kampung Merabu, Mapulu dan Panaan. Selain ritual adat, pada komunitas Dayak Lebbo ini juga terdapat aturan untuk melindungi satwa dan tumbuhan yang dianggap sebagai simbol adat. Hewan tersebut antara lain burung enggang, burung seset, triyan dan pelaki.

Open chat
1
Hello... Apa yang dapat kami bantu
Powered by