Home / Kabar Kampung / Franly, Sang PEJUANG SIGAP

Franly, Sang PEJUANG SIGAP

Franly, Sang PEJUANG SIGAP

Franly Oley nama lengkapnya. Lelaki kelahiran Sulawesi Utara dan beristrikan wanita Suku Dayak Lebo di Kampung Merabu.

Pada tahun 2020, Franly kembali terpilih dalam seleksi Pejuang SIGAP Sejahtera, sebagai lanjutan dari program serupa pada tahun 2019 lalu.

Sebagai seorang perantau yang kemudian menikah dengan wanita lokal, Franly mampu membaur bersama dengan masyarakat lokal.

Lelaki yang juga pandai bermain beberapa alat musik tersebut ternyata telah memberikan banyak inspirasi untuk membangun kampungnya.

Pada tahun 2013, Franly terpilih menjadi Kepala Kampung Merabu dan langsung merancang sebuah perencanaan dengan pendekatan SIGAP.

Saat pertama kali datang ke Merabu, kondisi kampung sangat sulit, terutama akses transportasinya, ujar Franly.

Untuk keluar atau kembali ke kampung Merabu, cukup sulit, Franly dan juga warga lainnya harus melalui Kampung Merapun via Sungai Lesan.

Sangat sulit kondisinya, apalagi saat kemarau dimana kondisi air Sungai Lesan cukup dangkal.

Saat menjabat sebagai Kepala Kampung, Franly Oley, yang dalam merancang program pembangunan kampung menggunakan pendekatan SIGAP serta dalam setiap prosesnya selalu melaksanakan secara partisipatif menuturkan bahwa tentunya ada begitu banyak masalah jika saya berpikir dengan kondisi kampung saat itu.

Tetapi ketika kita berangkat dengan pendekatan masalah, kita akan lambat bergerak. Mengapa? Karena kita akan selalu terjebak pada masalah itu sendiri.

Dengan pendekatan SIGAP kami mengedepankan dan menggali sebanyak mungkin potensi kampung demi mendorong percepatan pembangunan.

Merabu memiliki hutan dan didalamnya ternyata ada begitu banyak potensi yang dapat dikembangkan untuk menjadi tujuan wisata seperti Danau Nyadeng, Puncak Ketepu, kawasan Gua Prasejarah Beloyot, dan lain-lain.

Saat kami selalu berkutat dengan masalah, kami sungguh sulit mengetahui dan menggali potensi kami.

Ternyata kami sadar bahwa ada begitu banyak potensi yang sangat luar biasa di Merabu dan kami semakin sadar kala kami membuat peta 3 dimensi.

Informasi yang sebelumnya tidak pernah kami ketahui ternyata berhasil disingkap ketika kami menggunakan metode pengenalan kampung dengan peta tiga dimensi. Contohnya seperti area karst dan gua.

Dengan metode peta tiga dimensi, kami akhirnya bisa mengetahui bahwa ada lebih dari 130 gua yang ada di sekitat Merabu, baik yanh bernama atau belum ada namanya.

Potensi hutan yang sebelumnya selalu dipandang sebelah mata justru akhirnya mampu mengangkat Merabu ke level nasional hingga internasional.

Pada tahun 2014, Kampung Merabu mendapatkan pengakuan Hutan Desa dan dinobatkan sebagai pengelola terbaik kedua nasional.

Kami hanya bisa bermimpi sebelumnya, tetapi akhirnya, Merabu yang dahulu tidak dikenal, sejak saat itu banyak mata dan perhatian tertuju kepada kami.

Merabu juga menjadi kampung yang dijadikan pilot pertama penerapan SIGAP di Kabupaten Berau.

Perjalanan Franly sebagai Kepala Kampung akhirnya mendapatkan pengakuan dunia, saat Franly diundang dalam sebuah forum oleh PBB tentang perubahan iklim yang digelar di MAROKO, serta menjadi salah satu pembicara utama dan disaksikan oleh ratusan pasang mata para undangan dari berbagai penjuri dunia.

Awang Farouk Ishak, Gubernur Kaltim kala itu dan turut serta bersama Franly memberikan apresiasi luar biasa dan kagum karena seorang kepala kamoung dari pelosok Kalimantan Timur mendapatkan pengakuan internasional atas perannya dalam melindungi alam dan memajukan kampungnya.

Dalam forum itu, Franly yang juga fasih berbahasa Inggris tidak ragu untuk menyampaikan sebuah presentasi tentang potensi Merabu dan juga pendekatan SIGAP yang digunakan dalam mendukung kemajuan Merabu.

Saya sempat sangat gugup. Bagaimana tidak, kemampian bahasa Inggris saya tidak sebaik orang-orang yang jadir, tetapi syukurlah bahwa semuanya bisa berjalan lancar, ungkap Franly.

Pada tahun 2017, Franly meletakan jabatan sebagai Kepala Kampung dan kemudian digantikan oleh kepala kampung yang baru, Agustinus Karna.

Walau demikian, Franly tak ragu untuk mendukung dan membantu kepala kampung yang baru secara total sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, agar proses transformasi kepemimpinan di Merabu tetap lancar.

Merabu yang dahulunya sama sekali tidak dikenal di kancah nasional dan internasional menjadi sangat dikenal dan sejak 2017 cukup ramai dikunjungi oleh para tamu penting dan juga wisatawan dari mancanegara.

Puncak perjuangan Franly saat menjadi kepala kampung adalah kala Merabu berhasil mendapatkan bantuan hibah untuk pembangunan PLTS Komunal yang merupakan bantuan dari USA.

Mimpi kami agar dapat merasakan penerangan listrik seperti halnya di daerah lain kala pada tangga 26 April 2018, akhirnya, Merabu, sebuah kampung yang dahulunya dianggap sebelah mata , menikmati listrik 24 jam.

Sebelumnya, pada tanggal 10 Maret 2017, untuk pertama kalinya dalam sejarah, kendaraan roda 2 dan 4 akhirnya bisa masuk hingga ke kampung.

Bagi Franly, masalah adalah hal yang tak boleh kita lupakan tetapi jika kita tetap berkutat dengan masalah maka mungkin kampung kami tidak seperti sekarang.

Ibarat ketika kita diminta untuk menceritakan sesuatu tentang orang lain, maka akan muncul begitu banyak hal baik.positif atau negatif, tetapi jika kita diminta untuk menceritakan tentang diri kita sendiri akan sangat sulit dan mungkin sangat sedikit yang bisa kita ceritakan.

Begitu pula ketika kita bicara masalah, malah akan banyak sekali yang muncul tapi sebaliknya saat digali tentang potensi kita, akan sangat sedikit informasi yang muncul.

Itulah yang membuat saya tak berpikir dua kali ketika mencoba pendekatan SIGAP. Sebuah pendekatan dengan basis potensi dan jika ada masalah kita mengubahnya menjadi sebuah tantangan dan ada hal yang luar biasa dari pendekatan tersebut adalah visioning dan bagaimana kita belajar untuk selalu mengapresiasi dan selalu berpikir positif.

Franly, sang mantan kepala kampung tetaplah sederhana. Penerima penghargaan Satu Indonesia Award tahun 2018 tersebut tetap merendah.

Sering diundang menjadi pembicara hingga ke level nasional pun tak membuat Franly menjadi angkuh dan saat peluang menjadi Pejuang Sigap dibuka tahun 2019, Franly dengan penuh semangat mengikuti tes dan kemudian terpilih serta melanjutkannya kembali pada tahun 2020.

Bayangkan, seorang mantan Kepala Kampung, namanya sangat dikenal hingga ke level internasional, penerima penghargaan bergengsi, tetapi Franly tetaplah sama seperti sebelumnya.

Sederhana dan selalu merenda. Walau pernah menjabat kepala kampung, mengembangkan inovasi melalui website kampung, juga mendorong warganya melek internet melalui penyediaan sarana wifi gratis, penerima penghargaan tingkat nasional, menjadi pembicara pada level internasional, Franly tetap mau turun ke tapak, menjadi seorang Pejuang SIGAP dan tetap semangat dalam setiap proses pelatihan, termasuk pada pelatihan SIGAP tahun 2020 di Yon Armed 18/Komposit.

Akhirnya, selamat kepada Franly dan juga semua pejuang sigap Berau, teruslah mengasah kemampuannya demi mendorong sebuah perubahan, untuk Indonesia yang lebih baik.

#sayasigap #pejuangsiapsejahtera #pss2020 #yonarmed18komposit #dpmkberau #dpmpdkaltim #franlyoley #merabu #merabuasik

Lokasi Kegiatan
Jl. Mojo, Labanan Makmur, Tlk. Bayur, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur 77352, Indonesia

Dikirim dari Sigap

Check Also

Packard Foundation & CLUA Kunjungi Kampung Merabu

Pada tanggal 4 – 6 Pebruari 2020, sebanyak 7 orang tamu yang berasal dari Indonesia …

Open chat
1
Hello... Apa yang dapat kami bantu
Powered by