Home / Kabar Kampung / Menuju Penerapan SIGAP di Indonesia

Menuju Penerapan SIGAP di Indonesia

tlf-jakarta
JAKARTA – Seperti halnya Undang-Undang Otonomi Daerah di tingkat Provinsi dan Kabupaten, diterbitkannya UU Nomor 6/2014 tentang Desa dan PP Nomor 60/2014 tentang Dana Desa yang berasal dari APBN, memberikan angin segar bagi masyarakat desa, terutama yang berada di pelosok Indonesia.

Masyarakat desa ditantang untuk dapat mengenali potensi masing-masing dan mengelolanya demi kesejahteraannya sendiri. Namun, tanpa perencanaan dan pengelolaan yang baik, penggunaan dana desa dapat melenceng dari tujuan awalnya. Sejalan dengan hal tesebut, potensi Sumber Daya Alam (SDA) di desa juga harus dikelola secara berkelanjutan dan memberi manfaat yang besar bagi masyarakat.

Dalam acara Thought Leaders Forum (TLF) ke-12 yang diselenggarakan di Jakarta, Rabu (12/10/2016) kemarin, Kepala Kampung Merabu, Franly Aprilano Oley, hadir untuk mengemukakan sejumlah pemikirannya mengenai pengelolaan Kampung Merabu dengan Aksi Inspiratif Warga untuk Perubahan (SIGAP).

SIGAP merupakan sebuah pendekatan yang dikembangkan oleh The Nature Conservancy (TNC) untuk meningkatkan kemampuan dan kemandirian desa dalam membuat dan melaksanakan rencana pembangunan dan mengelola SDM-nya secara terpadu.

SIGAP sebagai alat bagi para pendamping desa baik oleh tenaga pendamping profesional maupun pihak ketiga (organisasi masyarakat sipil dan swasta) dalam mendampingi warga dan pemerintah desa untuk merencanakan dan melaksanakan pembangunan infrastruktur, menata lahan, mengembangkan ekonomi, mengelola SDA, juga dalam mengelola dan mempertanggungjawabkan dana yang diperolehnya.

Strategi pelibatan masyarakat yang dikembangkan TNC ini berdasarkan pada konsep pemberdayaan masyarakat berbasis asset (Asset Based Community Development) meliputi tahapan yang terbagi dalam 7 tahapan (7D), yaitu dekatkan diri hati dan pikiran (Disclosure), dialogkan tema perubahan (Define), dapatkan kekuatan (Discovery), deklarasikan impian (Dream), detilkan rencana perubahan (Design), daya upayakan perubahan (Delivery), dan dengungkan keberhasilan (Drive).

Dalam pengembangannya, SIGAP sendiri sejalan dengan konsep Perhutanan Sosial yang juga tengah dikembangkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dengan target luasan mencapai 12,7 juta hektar.

“SIGAP menjadi alat untuk membangun kesadaran kami akan potensi yang kami miliki dan berbuat untuk memberdayakan diri kami sendiri,” kata Franly, saat menghadiri TLF ke-12 tersebut.

BACA JUGA : Merabu Presentasikan Aplikasi SIGAP Di Jakarta

Hal itu sejalan dengan yang diungkapkan oleh Rizal Algamar, Country Director TNC Program Indonesia, tanpa SDM yang cakap, akan sulit bagi desa untuk mengelola potensi yang dimilikinya semaksimal mungkin dengan mengindahkan aspek-aspek keberlanjutan dan pelestarian alam.

“Kesadaran partisipasi warga, pemerintah, pihak swasta, dan pemangku kepentingan lainnya, sangat penting bagi desa atau kampung untuk dapat mengenal dan memahami potensi sumberdaya, menentukan rencana kelola, menata ruang dan penggunaan lahan, dan meningkatkan taraf hidupnya,” ujarnya.

Sementara itu, Wiratno, Direktur Penyiapan Kawasan Perhutanan Sosial, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), menyebutkan pendekatan seperti SIGAP dapat digunakan sebagai upaya untuk mendampingi masyarakat dalam mengelola hutan secara berkelanjutan sesuai dengan aspirasi dari bawah.

“Dari 72.000 desa atau kampung yang ada di Indonesia, lebih dari sepertiganya berada di sekitar atau dekat dengan hutan. Banyak diantaranya yang merupakan kantung-kantung kemiskinan. Kami di Perhutanan Sosial melihat bahwa sebenarnya masyarakat desa dapat mengurus hutan apabila diberikan pendampingan yang cukup. Dengan SIGAP, saya yakin kita bisa mewujudkan tata kelola hutan sesuai dengan yang diharapkan,” tandasnya.(Marta). kutipan dari beraunews.com

About admindesa

Check Also

Peluncuran Green Growth Compact untuk Kaltim Hijau

Jakarta, 26 September 2016 di Hotel Shangri-La, Kampung Merabu yang diwakili oleh Kepala Kampung Franly …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *